Sagala Tina Awi yang didirikan Aban Sudrajat hampir genap satu tahun berdiri. Aban mengatakan, untuk mempertahankan keberlangsungan workshopnya itu tentu saja bukan perkara mudah. Apalagi, usaha tersebut ia mulai dengan modal seadanya.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Aban tak sedikit menghabiskan waktu dan uang untuk merambah bisnis ekonomi kreatif yang lebih luas. Aban memperkaya pengetahuannya tentang bambu melalui riset kecil-kecilan. Dia juga memperluas jaringan pasar dengan mengikuti berbagai event, pelatihan, perlombaan dan pameran.
Aban juga membuka sanggar kecil di rumahnya. Wadah tersebut menjadi tempat muda-mudi dan anak-anak bertemu dan berlatih berbagai alat musik, menari, dan juga seni beladiri. Aban berharap, dengan kecintaan budaya yang terbangun di kalangan generasi muda, pelestarian kebudayaan dapat terurs berlangsung dan industri kreatif bernilai ekonomi bisa menopang kehidupan mereka.
Dari pelatihan dan pergulatannya membuat berbagai kerajinan berbahan bambu, Aban mulai memahami bambu sebagai bahan baku. Menurut dia, bambu memiliki karakteristik yang sangat unik. Karakter itu terbentuk dari bagaimana cara menanamnya, dimana bambu ditanam, dan kapan waktu tanam hingga waktu petiknya.
“Tanaman bambu mudah didapat dan proses pertumbuhannya lebih cepat dari tanaman kayu,” kata dia.










Komentar ditutup.