Kisah Sukarna Natawirya: Pelestari Budaya Sunda dari Jogjakarta

oleh -28 Dilihat
Sukarna Natawirya. Foto: rasioo.id
banner 468x60

 

HayuKaBogor.com Di antara gang sempit di Jalan Kebun Kaung, Kelurahan Ciriung, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, terdengar merdu suara alat musik karawitan dari sebuah rumah sederhana.

Rumah itu adalah Saung Komara Sunda, tempat di mana Sukarna Natawirya, seorang pria berusia 75 tahun, dengan penuh semangat melestarikan dan mengajarkan seni budaya Sunda kepada anak-anak.

Sukarna lahir di Jogjakarta pada 12 Mei 1949, namun kehidupannya seolah ditakdirkan untuk menjadi penjaga warisan budaya Sunda. Ayahnya, seorang perwira menengah polisi dengan pangkat terakhir Komisaris Besar, juga merupakan pelestari budaya yang mendirikan Sanggar Komara Sunda.

Sang ayah menanamkan nilai-nilai kesenian pada Sukarna sejak kecil, membuatnya tumbuh besar dengan kecintaan mendalam terhadap seni klasik.

Baca Juga: Bukan Sentimen Kedaerahan, Rudy Susmanto Sebut Pembangunan Kabupaten Bogor Butuh Cinta dan Kekuatan Budaya

Sejak 1970, Sukarna telah mengabdikan dirinya untuk menyebarkan budaya Sunda di Bogor. Di Saung Komara Sunda, ia tidak hanya mengajarkan tari dan musik, tetapi juga menyampaikan filosofi kehidupan.

Menurut Sukarna, seni dan budaya adalah elemen penting yang dapat menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan dalam pembangunan.

Pendidikan seni Sukarna dimulai di Konservatori Karawitan Bandung, sebuah sekolah dengan standar tinggi yang mengharuskan siswa menguasai berbagai jenis tarian dan alat musik tradisional.

Hanya sembilan dari 42 siswa yang berhasil lulus, termasuk Sukarna. Prestasinya dalam bidang seni membuatnya ditawari menjadi guru di Konservatori, tetapi Sukarna memilih menjadi praktisi seni.

Pada 1970, Sukarna bersama delapan lulusan lainnya diminta oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat untuk menyebarkan budaya Sunda ke berbagai daerah. Sukarna ditugaskan di Kabupaten Bogor, di mana ia mengajar seni dan budaya di SMPN 1 Cibinong.

Tiga setengah tahun kemudian, Bupati Bogor saat itu, Wissatya Sasemita, memintanya membentuk tim kesenian untuk mengikuti Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) di Provinsi Jawa Barat.

Dengan mengumpulkan 120 anak, termasuk murid-muridnya, Sukarna memimpin Kabupaten Bogor menjadi juara umum di ajang tersebut. Prestasi ini membuka jalan bagi karirnya di pemerintahan, dan ia diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Sebagai aparatur, Sukarna terus mengurus seni dan budaya Kabupaten Bogor hingga pensiun, mencetak sejarah yang membanggakan bagi daerahnya.

Sukarna Natawirya, meskipun lahir di Jogjakarta, telah menjadi sosok yang lebih Sunda dari banyak orang Sunda sendiri. Melalui dedikasinya dalam melestarikan dan mengajarkan seni budaya, ia telah menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan dan etika dalam masyarakat, menjadikan Bogor kaya akan warisan budaya Sunda.

 

 

 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *