Hayukabogor.com – Perubahan wajah sejumlah perkantoran dan ruang publik di Kabupaten Bogor dengan sentuhan ornamen Sunda belakangan menjadi perhatian masyarakat. Mulai dari penggunaan aksara Sunda hingga ornamen khas Pajajaran menghiasi sejumlah titik di kawasan pemerintahan Kabupaten Bogor.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
Bupati Bogor Rudy Susmanto akhirnya menjelaskan alasan di balik kebijakan tersebut.
Menurut Rudy, perubahan tersebut bukan sekadar mempercantik kawasan pemerintahan, melainkan bagian dari upaya mengembalikan identitas dan kebanggaan masyarakat Bogor terhadap budaya Sunda.
Hal itu disampaikan Rudy saat menjadi narasumber dalam Podcast POSISI, Podcast Literasi dan Inspirasi.
“Saya hanya ingin melihat masyarakat Bogor bangga bahwa masyarakat Bogor adalah suku Sunda. Saya hanya ingin mengembalikan kesundaan yang ada di kantor pemerintah Kabupaten Bogor,” kata Rudy.
Rudy menegaskan, ornamen Sunda yang mulai terlihat di sejumlah bangunan dan ruang publik bukan berarti pembangunan Kabupaten Bogor hanya berorientasi pada kawasan pemerintahan.
Ia menyebut pembangunan fisik di kawasan perkantoran justru hanya bagian kecil dari agenda besarnya membangun Kabupaten Bogor.
“Inti dari kita membangun sebuah wilayah bukan dari kantor pemerintahannya,” ujarnya.
Rudy kemudian mencontohkan penataan Alun-alun Tegar Beriman. Menurutnya, pemerintah tidak membangun kawasan tersebut dari nol, melainkan melakukan penataan dengan menghilangkan sejumlah pagar dan memindahkan gerbang, kemudian memberikan sentuhan ornamen bernuansa Sunda.
“Alun-alun Tegar Beriman kita hanya membuang pagar Masjid Baitul Faizin, membuang pagar Lapangan Tegar Beriman, dan memindahkan gerbang depan mundur ke belakang dengan aksen-aksen mirip-mirip dengan Sunda,” jelasnya.
Namun, kata Rudy, pembangunan Kabupaten Bogor yang sesungguhnya menyentuh 40 kecamatan, 416 desa dan 19 kelurahan.
Ia menilai persoalan mendasar masyarakat bukanlah semata-mata membutuhkan ornamen atau bangunan yang indah, tetapi konektivitas, pendidikan, kesehatan, rumah layak huni hingga kesempatan ekonomi.
“Kalau mau membangun wilayah, yang dibangun pertama apa? Ibarat sebuah tubuh, urat nadinya bangunlah dulu. Urat nadi itu apa? Jaringan jalan. Konektivitas antarwilayah,” kata Rudy.
Karena itu, sejak awal menjabat pada 20 Februari 2025, Rudy mengklaim pemerintahannya lebih banyak mengarahkan pembangunan pada pembukaan akses dan pemerataan infrastruktur.
Salah satu yang menjadi titik awal adalah pembangunan kembali Pendopo Kawedanaan Jasinga. Pembangunan tersebut, kata dia, dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 100 hari.
Pemerintah juga membuka akses jalan baru di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, sepanjang sekitar 20 kilometer yang diarahkan menjadi poros penghubung Kabupaten Bogor dengan Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Lebak, Banten.
Selain itu, pembangunan dan rekonstruksi jalan dilakukan di berbagai wilayah, termasuk Bogor Barat, Bogor Timur hingga Bogor Selatan.
Rudy menyebut pada 2025, pembangunan dan penanganan jalan, baik jalan kabupaten maupun jalan desa, mencapai sekitar 516 kilometer.
“Mengembalikan Kehormatan Orang Bogor”
Rudy mengatakan penggunaan ornamen Sunda memiliki kaitan erat dengan gagasan yang disebutnya sebagai “Mapag Pajajaran Anyar” atau menjemput Pajajaran baru.
Menurutnya, masyarakat Bogor hari ini hidup dalam era digital dan pemerintahan modern. Karena itu, identitas budaya harus berjalan beriringan dengan transformasi zaman.
“Di mana dulu Jawa Barat atau Bogor dikenal dengan Kerajaan Pajajaran. Kenapa disebut Pajajaran Anyar? Hari ini masyarakatnya sama, tetapi menjalankan roda pemerintahan dan aktivitas keseharian dengan sebuah transformasi digital,” tuturnya.
Ia juga menjelaskan penggunaan istilah “Kuta Udaya Wangsa” yang terdapat dalam identitas Pemerintah Kabupaten Bogor.
Rudy menegaskan istilah tersebut bukan tagline baru yang dibuat pemerintahannya. Menurut dia, Kuta Udaya Wangsa telah menjadi bagian dari identitas Pemerintah Kabupaten Bogor sejak awal berdirinya pemerintahan daerah tersebut.
“Yang artinya kota kebangkitan bangsa,” katanya.
Rudy bahkan mengaitkan penggunaan ornamen Sunda dengan upayanya membangun kebanggaan masyarakat terhadap daerahnya sendiri.
Menariknya, Rudy mengaku dirinya lahir dan besar di Solo. Namun, ketika memimpin Kabupaten Bogor, ia memilih tidak membawa identitas budaya asal kelahirannya ke dalam simbol-simbol pemerintahan.
“Walaupun saya lahir dan besarnya di Solo, saya menyampaikan di sini, saya lahir dan besar di Solo. Tapi tidak ada ornamen Solo saya bawa ke sini. Yang saya bawa adalah ornamen-ornamen Jawa Barat, ornamen-ornamen Bogor,” tegasnya.
Ia menyebut sejumlah simbol yang digunakan pemerintah antara lain Mahkota Binokasih dan ornamen yang berkaitan dengan sejarah Pajajaran.
Bagi Rudy, hal tersebut bukan untuk membangun identitas pribadi maupun kelompok politik, melainkan mengembalikan rasa memiliki masyarakat terhadap Kabupaten Bogor.
“Kalau pun ada ornamen-ornamen beberapa yang kami bangun, kami hanya ingin mengembalikan bahwa kehormatan orang Bogor itu orang Sunda,” ujarnya.
Ia pun menyampaikan pesan khusus kepada masyarakat yang lahir dan besar di Kabupaten Bogor.
“Saya hanya ingin mengembalikan, kalian yang lahir dan besar di Bogor harus lebih sayang dan cinta kepada Bogor daripada saya,” kata Rudy.
Pembangunan Bukan Sekadar Mempercantik Cibinong
Rudy juga membantah anggapan bahwa perubahan wajah kawasan pemerintahan menunjukkan pembangunan Kabupaten Bogor terlalu berpusat di Cibinong.
Menurutnya, berbagai pembangunan di Cibinong tidak seluruhnya menggunakan APBD Kabupaten Bogor. Sejumlah fasilitas justru dibangun melalui kolaborasi dan CSR pihak swasta.
Ia mencontohkan skywalk di depan Bappenda yang disebutnya berasal dari CSR, serta vertical garden yang dibangun melalui kontribusi pihak swasta.
Sementara di sejumlah wilayah lain, pemerintah lebih memilih membangun infrastruktur yang dianggap menjadi kebutuhan utama masyarakat.
“Coba lihat Sekolah Rakyat ada di Jasinga. Coba lihat Malasari sudah terhubung 20 kilometer. Kan nggak mungkin kami bangun tugu di wilayah pinggiran di tengah gunung. Karena masyarakat di sana nggak butuh tugu, masyarakat butuhnya jalan, kita kasih jalan,” tegasnya.
Menurut Rudy, pembangunan simbol dan ornamen daerah harus ditempatkan sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas, sementara pembangunan infrastruktur dasar tetap menjadi prioritas utama.
Ia pun kembali menegaskan bahwa pembangunan Kabupaten Bogor tidak dapat dilakukan seorang diri.
“Bogor tidak bisa dibangun oleh satu orang. Bogor tidak bisa dibangun oleh satu suku. Bogor tidak bisa dibangun oleh satu agama. Bogor harus dibangun dengan kebhinekaan, dan Bogor harus dibangun oleh orang-orang yang sayang dan cinta terhadap Kabupaten Bogor,” pungkasnya.







